Sekulerisasi Pendidikan (Perspektif Sejarah)
Setiap jaman memiliki jiwa zamannya sendiri (zeitgeist). Demikian juga pendidikan setiap jaman memiliki ciri, cara dan karakternya sendiri. Hal ini membedakan "produk" pendidikan setiap jaman. Generasi terbaik adalah generasi para sahabat yang merupakan hasil didikan langsung dari Nabi. Generasi ini seharusnya menjadi rujukan setiap mukmin sehingga kehidupan senantiasa mendapat ridho Allah SWT. Karakteristik generasi tersebut sangat mulia sehingga tidak bisa ditandingi oleh generasi mana saja setelahnya. Proses pendidikan pasti ada, tetapi sekolahnya tidak ada. Itulah bukti otentik hebatnya pendidikan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa tahkim yakni penyerahan kekuasaan Hasan bin Ali kepada Muawiyah adalah salah satu contohnya hebatnya hasil didikan Rasulullah SAW, padahal sebelumnya terjadi sejumlah perang antar sahabat yang awal masalahnya dimulai sejak terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan.
Pendidikan sendiri tidak identik dengan sekolah walaupun saat ini banyak proses pendidikan dilakukan di sekolah-sekolah. Pendidikan sendiri pada dasarnya adalah suatu upaya menyampaikan suatu gagasan, ilmu pengetahuan dan menanamkan nilai-nilai, yang menjadi dasar lahirnya suatu kebudayaan tertentu, hal ini sehingga pendidikan hakekatnya merupakan proses pembudayaan. Dan kebudayaan itu pasti lahir dari dunia pendidikan atau pendidikan adalah basis dari kebudayaan, dengan pendidikan itu sendiri bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, atau mudahnya tidak harus di sekolah. Sekolah formal yang kita kenal seperti hari ini terwujud belum lama dan melalui proses panjang hingga berbentuk seperti saat ini. Hal ini karena pada jaman dahulu untuk mendapatkan ilmu-ilmu yang dibutuhkan seseorang harus mendatangi banyak guru (rihlah fi tholabul ilmi) dengan tempat tinggal para guru itu juga bisa terpisah jauh sehingga membutuhkan waktu yang panjang, keuletan tinggi, kesabaran dan sebagainya, termasuk mendatangi majelis-majelis taklim di mesjid-mesjid. Pada masa dinasti Seljuk, wazir Nidhamul Muluk menginisiasi ide model persekolahan seperti saat ini, yakni mengumpulkan ulama sehingga para penuntut ilmu mendatangi tempat tersebut (madrasah). Dan perguruan tinggi dimulai dari dunia Islam yakni masa khalifah Harun Ar Rasyid dengan baitul hikmahnya.
Selama 10 abad Eropa dalam zaman kegelapan (dark age) karena dominasi gereja telah mendorong mereka untuk memisahkan agama/gereja dan kehidupan sehari-hari atau lahirnya sekulerisme. Agama dalam perspektif mereka tidak bisa sejalan dengan pengetahuan dan kemajuan peradaban, sehingga dipinggirkan dan ditinggalkan sedangkan menjadi arus utama landasan kehidupan mereka adalah atheisme yang merupakan bagian dari sekulerisme itu sendiri. Sehingga hari ini bagi mayoritas orang Eropa ketika masih membicarakan dan membahas agama adalah suatu kemunduran.
Hal ini berbeda 180 derajat dengan Islam dimana dalam sejarahnya agama telah terbukti sukses sebagai dasar berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban sehingga menjadi mercusuar dunia pada masanya. Dorongan Islam untuk menggunakan akal untuk memahami Islam itu sendiri dan berbagai hal dalam kehidupan menjadi daya dorong utama berbagai kemajuan ilmu pengetahuan. Bahkan muslim yang tidak menggunakan akalnya untuk memahami Islam maka bisa dipastikan pemahaman agamanya dangkal dan lemah. Hal ini membuktikan bahwa ketika umat Islam kembali kepada agamanya maka keunggulan, kemenangan dan kekuatannya kembali seperti masa keemasannya.
Menyadari dengan kondisinya yang terbelakang, Eropa lalu meniru berbagai tradisi keilmuan umat Islam termasuk berdirinya sekolah-sekolah. Eropa meniru tradisi keilmuan umat Islam dalam bingkai sekulerisme, sehingga karakteristiknya berbeda sama sekali dengan peradaban Islam. Walaupun begitu memang diakui bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dunia saat ini dipimpin oleh bangsa barat, sehingga umat Islam mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, dalam banyak hal perlu belajar hal tersebut dari mereka. Ketika umat Islam hanya menjadi pengekor atau mengikuti peradaban barat tersebut, maka umat Islam tidak akan bisa menjadi pemimpin peradaban.
Umat Islam wajib menguasai ilmu-ilmu fardhu 'ain sebelum ilmu-ilmu fardhu kifayah. Dengan ilmu-ilmu fardhu 'ain tersebut umat Islam telah memiliki ilmu yang memadai untuk bisa beribadah dan beramal, sedangkan dengan ilmu fardhu kifayahnya secara spesifik umat Islam telah bermanfaat pada bidang-bidang khusus. Penguasaan ilmu-ilmu dengan paradigma Islam sangat penting untuk mengembalikan ruh Islam yang anti sekulerisme. Intensifikasi dakwah dengan dukungan kajian-kajian ilmiah akan menjadi senjata ampuh untuk membendung dan melawan sekulerisme. Hal ini karena Islam adalah agama ilmu. Memahami sejarah Islam dan mempelajari sejarah sekulerisme secara khusus bisa menangkal sekulerisme secara presisi.
Komentar
Posting Komentar